HIKMAH PETUNJUK DAN KESESATAN Rahasia Allah dalam Menurunkan Adam ke Bumi (Bagian Pertama)

 

Nabi Adam Diturunkan ke Bumi

HIKMAH PETUNJUK DAN KESESATAN

Rahasia Allah dalam Menurunkan Adam ke Bumi

(Bagian Pertama)

Oleh: Dr.H.Sukarmawan,M.Pd.

Sesungguhnya, terdapat hikmah dibalik keputusan Allah SWT mengeluarkan Adam a.s., bapak manusia, dari surga.  Hanya saja hal itu tidak mampu dipahami akal dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Peristiwa dikeluarkan Adam a.s. dari surga merupakan esensi kesempurnaan-Nya agar kelak Adam a.s kembali ke surga dalam kondisi yang terbaik. Allah SWT ingin membuat Adam dan keturunannya merasakan kehidupan dunia dengan segala kesusahan, keresahan, dan kesulitan di dalamnya, yang semua itu menjadi standar masuknya mereka ke surga di akhirat kelak.

Seandainya mereka hidup di surga, maka mereka tidak akan dapat mengetahui agungnya surga. Allah SWT ingin memberikan perintah dan larangan, serta ujian buat mereka, sedangkan surga bukanlah tempat untuk menerima beban taklif (paksaan). Oleh karena itu, Allah mengeluarkan mereka dari surge dam menurunkan mereka ke bumi. Allah SWT menawarkan kepada mereka sebaik-baik balasan, yang tidak mungkin diperoleh tanpa ada perintah dan larangan. Di samping itu, Allah SWT ingin memilih di antara mereka para nabi, rasul, wali, dan syuhada yang Allah swt cintai serta mereka mencintai-Nya. Maka, Allah SWT membaurkan mereka dengan musuh-musuh-Nya, dan menguji mereka dengan musuh-musuh mereka itu.

Tatkala mereka lebih memilih Allah SWT, dengan mengorbankan jiwa dan harta mereka demi keridhaan dan kecintaan-Nya, maka mereka memperoleh kecintaan, keridhaan, dan kedekatan dengan-Nya (Taqorrub ilallah), yang tidak mungkin diraih tanpa pengorbanan tersebut. Kerasulan, kenabian, syahid, cinta, marah, keberpihakan kepada wali-wali-Nya dan membenci musuh-musuh-Nya karena Dia semata, merupakan derajat yang paling mulia di sisi-Nya. Semua ini tidak mungkin terwujud kecuali dengan cara yang telah diatur dan diputuskan-Nya. Yaitu, menurunkan Adam a.s. ke bumi dan menjadikan kehidupannya serta kehidupan anak cucunya di dalamnya.

Sesungguhnya Allah SWT memiliki Asmaa'ul-Husnaa (nama-nama yang indah). Di antaranya adalah al-Ghafuur, ar-Rahiim, al-'Afuww, al-Haliim, al-Khaafid, ar-Raafi', al-Mu'izz, al-Mudzill, al-Muhyi, al-Mumiit, al-Waarits, dan ash-Shabuur. Pengaruh dari Asmaa'ul-Husnaa tersebut pasti terlihat. Maka dengan kebijaksanaan-Nya, Adam dan keturunannya Allah swt turunkan ke muka bumi ini karena pengaruh Asmaa 'ul-Husnaa Penampakan sifat-sifat yang khusus diperuntukkan bagi makhluk-Nya karena Allah 'Azza wa Jalla bersifat Maha Sempurna sejak zaman sebelum manusia diciptakannya oleh Allah swt (zaman azali).

Allah SWT tidak hanya memiliki nama al-Khaaliq (Pencipta) setelah Dia mencipta dan nama ar-Raaziq setelah memberi rezeki, tapi Dia Pencipta sebelum menciptakan, Pemberi rezeki sebelum memberi rezeki, Menghidupkan sebelum memberi kehidupan, dan Mematikan sebelum Dia mematikan. Di alam inilah Allah SWT mengampuni, mengasihi, mengangkat, memuliakan, menghinakan, menyiksa, memberi, tak memberi, melapangkan dan sebagainya bagi siapa saja yang Dia kehendaki sebagai manifestasi dari asma dan sifat yang Dia miliki.

Allah SWT adalah al-Maalik, al-Haqq, dan al-Mubiin (Maha Penguasa, Maha Benar, Maha Nyata). Al-Maalik adalah Yang memerintah, melarang, memberikan ganjaran, memberikan hukuman, menghinakan, memuliakan, meninggikan, dan merendahkan. Dengan demikian, kekuasaan Allah SWT menghendaki diturunkannya Adam dan keturunannya ke bumi, di mana hukum-hukum kekuasaan-Nya diberlakukan. Setelah itu, mereka akan dipindahkan ke suatu tempat, yang di dalamnya terbukti kesempurnaan kekuasaan-Nya tersebut. Allah SWT juga menurunkan manusia ke bumi, di mana keimanan kepada yang gaib dapat terwujud.

Sesungguhnya, keimanan kepada yang gaib adalah keimanan yang hakiki dan bermanfaat, berbeda dengan keimanan hanya kepada yang tampak. Setiap orang percaya bahwa pada hari kiamat hanya keimanannya yang bermanfaat. Seandainya mereka tetap ditempatkan di dalam surga, maka mereka tidak akan memperoleh tingkat keimanan kepada yang gaib ini. Mereka pun tidak akan merasakan kelezatan dan kemuliaan yang hanya dapat terwujud dengannya. Bahkan kelezatan dan kemulian yang tersedia bagi mereka di surga, tempat kenikmatan itu, tidak seperti yang akan mereka peroleh karena keimanan kepada yang gaib.

Sesungguhnya, Allah SWT telah menciptakan Adam a.s. dari segenggam materi yang diambil dari semua zat bumi. Bumi yang mengandung zat baik, buruk, lapang, keras, mulia, dan jahat. Allah SWT mengetahui bahwa di punggung Adam a.s. terdapat keturunannya yang tidak layak tinggal bersamanya di surga sebagai alam kenikmatan. Oleh karena itu, Allah SWT menurunkannya ke bumi, di mana kebaikan dan keburukan dikeluarkan dari tulang sulbinya. Lalu Allah SWT memisahkan keduanya dan masing-masing Dia tempatkan di tempat yang berbeda. Maka, Allah SWT menjadikan orang-orang baik sebagai teman dan sahabat Adam a.s. di surga kelak, dan menjadikan orang-orang yang jahat sebagai penghuni neraka, tempat orang-orang yang menderita dan orang-orang jahat. Sebagaimana firman Allah SWT:

لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَىٰ بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

 "Supaya Allah memisahkan golongan yang buruk dari yang baik dan menjadikan yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu semuanya ditumpukannya dan dimasukkannya ke dalam neraka Jahanam. (Mereka itulah orang-orang yang merugi)." (QS.al-Anfal: 37).

Syeikh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah  akan menyebutkan nanti hadits yang menunjukkan hal itu, yaitu punggung Adam berdasarkan sabda Rasul saw., "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam, kemudian mengambil makhluk dari punggungnya, lalu Allah berfirman, 'Mereka ini dalam surga dan Aku tidak peduli; dan mereka ini di neraka dan Aku tidak peduli.'" Diriwayatkan Ahmad, al-Hakim dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya. Al-Albani menshahihkannya dalam kitab as-as-Silsilah Shahihah Karena Allah SWT tahu bahwa dari keturunan Adam a.s. ada yang tidak layak tinggal bersamanya di surga, maka Dia menurunkan Adam a.s. dan keturunannya ke tempat di mana orang-orang yang tidak layak tinggal di surga itu dipisahkan, lalu dimasukkan ke tempat yang sesuai dengan mereka. Semua itu terjadi karena hikmah-Nya yang agung dan kehendak-Nya yang sempurna.

Sungguh demikianlah ketetapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Tatkala Allah SWT berfirman kepada para malaikat:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

 "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Para malaikat pun bertanya, "Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau." (QS.al-Baqarah: 30)

Merespon pertanyaan para Malaikat-Nya maka Allah SWT menjawab pertanyaan itu dengan berfirman:

إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

 "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. al-Baqarah: 30)

Setelah itu, Allah SWT pun menampakkan ilmu-Nya kepada hamba-hamba dan malaikat-Nya. Dia menjadikan di atas bumi ini orang-orang yang istimewa; yaitu para rasul, para nabi, dan para wali. Juga orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengorbankan jiwa melawan syahwat dan hawa nafsu demi cinta dan ridha dari-Nya. Mereka meninggalkan semua yang mereka cintai untuk mendekatkan diri kepada-Nya, mereka melawan hawa nafsu demi mencari keridhaan-Nya, dan mereka mengorbankan jiwa dan raga demi menggapai cinta-Nya. Maka, Allah SWT memberi mereka keistimewaan dengan sebuah pengetahuan yang tidak dimiliki para malaikat.

Mereka pun selalu bertasbih dengan memuji-Nya siang dan malam. Mereka senantiasa menyembah-Nya meskipun hawa nafsu, syahwat, dan godaan jiwa serta musuh-musuh mereka selalu menghasutnya. Sedangkan para malaikat, mereka menyembah Allah SWT tanpa ada tantangan yang menghadang, tanpa ada syahwat yang menggoda, dan tanpa ada musuh yang berbuat semena-mena, karena ibadah para malaikat kepada Allah SWT seakan menyatu dengan jiwa mereka. Di samping itu, Allah SWT ingin menampakkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, perihal musuh-musuh-Nya, pembangkangan mereka, dan ketakaburan mereka terhadap perintah-Nya. Allah SWT juga ingin menampakkan usaha musuh-musuh-Nya itu dalam menentang keridhaan-Nya. Dan sebelumnya, semua itu tersembunyi dan tidak diketahui oleh bapak manusia dan bapak jin. Oleh karena itulah, Allah SWT menurunkan mereka ke bumi, dan di sana Dia memperlihatkan apa yang sebelumnya hanya diketahui oleh-Nya. Maka, nyata dan sempurnalah kebijaksaanan serta perintah-Nya, dan pengetahuan-Nya pun menjadi tampak oleh para malaikat. Allah SWT mencintai orang-orang yang sabar, orang-orang yang berbuat baik, orang-orang yang bersatu untuk berperang di jalan-Nya, orang-orang yang bertobat, orang-orang yang bersih, dan orang-orang yang bersyukur.

Sesungguhnya, kecintaan Allah SWT adalah kemuliaan yang paling tinggi. Karena itu, dengan hikmah-Nya Dia menempatkan Adam a.s. dan keturunannya di suatu tempat, di mana kecintaan Allah SWT itu dapat terwujud. Dengan demikian, diturunkannya Adam dan keturunannya ke bumi ini adalah nikmat yang paling tinggi bagi mereka. Allah berfirman:

وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

"Dan Allah menentukan siapa yang dikehendakinya untuk diberi rahmat dan Allah mempunyai karunia yang sangat besar." (QS.al-Baqarah: 105)

Sesungguhnya, Allah SWT juga ingin mengambil dari keturunan Adam orang-orang yang Dia bela, Dia kasihi serta Dia cintai, dan mereka juga mencintai-Nya. Kecintaan mereka kepada-Nya merupakan puncak kehormatan dan kemuliaan. Derajat yang mulia ini tidak mungkin terealisasi tanpa adanya keridhaan dari-Nya dengan mengikuti perintah-Nya, serta meninggalkan keinginan hawa nafsu dan gejolak syahwat yang dibenci oleh-Nya, Zat yang mereka cintai. Maka, Allah SWT menurunkan mereka ke bumi ini, di mana mereka menerima perintah dan larangan untuk mereka taati. Oleh sebab itu, mereka memperoleh kemuliaan cinta dari-Nya. Itulah kesempurnaan hikmah dan kasih sayang-Nya, Dia Yang Maha Baik lagi Maha Penyayang. Karena Allah telah menciptakan makhluk-Nya secara berjenjang dan berjenisjenis, dan dengan hikmah-Nya Dia mengutamakan Adam a.s. beserta keturunannya atas seluruh makhluk-makhluk-Nya, maka Dia menjadikan penyembahan ('ubudiyyah) mereka kepada-Nya sebagai derajat yang paling mulia. Yaitu 'ubudyiyah yang mereka lakukan sesuai keinginan dan pilihan mereka sendiri, bukan karena keterpaksaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keshalihan Orang Tua Sangat Bermanfaat Bagi Keshalihan Anak-Anaknya

Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah Mengajak Kita Untuk Renungkan Tentang Diri

Tips Jitu Mengatasi Kegalauan Hatimu